KMM STKS BANDUNG

Syiar dan Media Dakwah Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung

Mewaspadai Ancaman Globalisasi August 28, 2010

Filed under: Buletin,Kebangkitan Nasional,Nasionalisme — kmmstks @ 1:15 pm
Tags: , ,

Samsul Huda

Judul : Republik Pasar Bebas: Menjual kekuasaan Negara, Demokrasi dan Civil Society Kepada Kapitalisme Global
Pengarang : Susan George
Penerbit : INFID, Bina Rena Pariwara Jakarta

http://www.nu.or.id/public_detail_buku.asp?id_buku=13

Banyak orang berucap dengan ringannya kata ‘globalisasi’, seolah kata itu tak bermakna, sebuah kata-kata kosong, yang tidak memiliki implikasi ideologi sama sekali. Bahkan ngerinya kata ini, seolah menjadi panduan pergaulan sehari-hari yang diucapakan oleh manusia dari segala strata. Semua bicara tentang globaliasi,.di mana-mana globalisasi. Tragisnya kata ini menjadi magnet luar biasa kuat, konsumen kata ini bukan monopoly pemerintah, akademisi, atau kalangan profesional semata, tapi sudah menjadi bahasa pergaulan sehari-hari rakyat kecil, istilah ini meluber kemana-mana, dari gedung bertingkat sampai kedai kopi. Semua memperbincangkannya tanpa tahu, siapa kekuatan invisible hand yang menggerakkan demi kepentingan ideologinya.

Bagi Susan George, penulis buku ini, melihat fenomena di atas, menjadi maklum bila istilah globalisasi ini demikian mempengaruhi dan mendominasi pikiran manusia modern, karena memang didesain sangat rapi dengan biaya jutaan dollar. Mereka mengadopsi pikiran Gramsci tentang hegemony, kalau pikiran sudah bisa dipengaruhi, maka tangan dan hati akan mengikuti. Bagaimana mana mereka memenangkan pertarungan ide ini, kaum neoliberal memperjuangkan ide mereka dengan menciptakan jaringan internasional sangat besar. Salah satunya dengan cara mendirikan yayasan, institute, lembaga think tank, lembaga-lembaga penelitian, menggunakan alat dan sarana publikasi, serta brosur-brosur, mereka menyebarkan ide-idenya ke seluruh belahan bumi ini.

Mereka juga menciptakan, para penulis kelas dunia dan tokoh-tokoh masyarakat yang mendukung ideologi mereka guna mengembangkan, mendorong, dan mengkampanyekan ide doktrin neoliberalisme, cara mereka demikian cerdasnya sehingga seolah-olah neoliberalisme merupakan suatu kondisi alamiah normal, tidak ada alternatif seperti yang diucapkan oleh Margaret Thatcher, There Is No Alternatif (TINA) terhadapanya, dan tidak memperdulikan berbagai kerusakan yang ditimbulkannya. kini kita telah memasuki era globalisasi, menunjukkan seolah sebuah tahapan yang harus dilalui oleh setiap peradaban manusia, di seminar, lokakarya, bahkan iklan layanan masyarakat atau pengumuman resmi dari negara, semuanya hampir menggunakan istilah globaliasi. Dari gambaran ini menunjukakn bahwa manusia modern telah terperangkap dengan globalisasi yang memberi pengertian bahwa semua orang dari semua golongan agama dibumi ini terperangkap dalam satu gerakan, sebuah fenomena yang mencakup segalanya dan semua berbaris bersama menuju ke tanah yang dijanjikan.(hal 61).

Nilai sentral dari doktrin yang dibesut oleh Frederic Von Hayek dan Kelompok Chicago School, termasuk muridnya Milton Friedman adalah hukum kompetisi bebas, antara agama, bangsa, perusahaan dan tentu saja individu. Kompetsisi adalah sentral karena memisahkan biri-biri dari domba, laki-laki dewasa dari anak laki-laki, yang sehat dari yang sakit. Ini diharapkan dapat mengalokasikan semua sumber daya, apakah fisik, alami, manusia, atau keuangan dengan kemungkinan efesiensi. (hal 45). Pasar seharusnya diperbolehkan untuk membuat keputusan sosial dan politik yang besar, negara seharusnya secara sukarela mengurangi perannya dalam perekonomian, atau bahwa korporasi seharusnya diberi kebebasan total, serikat buruh dikekang, dan masyarkat tidak perlu mendapat perlindungan dari negara melalui jaminan sosial karena itu berarti pemborosan anggaran. Biarlah semua berkompetisi melalui pasar, kemiskinan terjadi akibat ia kalah berkompetisi, tak siap bertanding, wajar kalau terlempar dari arena pertandingan.

Kini, peta aktor dunia, yang mendriven globalisasi makin jelas, sejak dikembangkannya kesepakatan The Bretton Woods di AS dengan didirikannya IMF dan Bank Dunia, serta ditandatanganinya kesepakatan GATT, dunia secara global sesungguhnya telah memihak didorong oleh kepentingan perusahaan perusahaan transnasional (TNCS) yang merupakan aktor terpenting dari globalisasi. Pada konteks itulah sesusungguhnya kesatuan global telah menjadi semacam sistem nilai tunggal, yang harus ditaati, ada proses dominasi sistemik.

Jika kemajuan manusia merupakan obyek globalisasi, maka para pemrakarsanya harus mengakui terjadinya kegagalan besar. Kekuatan pasar dan birokrasi internasional yang tidak dipilih telah dibiarkan mendikte aturan, dengan konsekuensi, yang tersebar di sekeliling kita. Setelah krisis Meksiko dan devaluasi pada tahun 1994-1995, maka setengah penduduk Meksiko telah jatuh di bawah dari kemiskinan. Setahun atau dua tahun lalu macan-macan Asia telah dipilih sebagai suri tauladan. Kini kelaparan secara harfiah telah kembali ke Indonesia. Di mana IMF di situ pula terjadi bencana krisis ekonomi yang sangat hebat, kalau sudah begitu masihkah paham ini layak dipertahankan? Tidak ada alternatif lain, kecuali harus diganti segera (hal 68).

Buku tipis setebal 100 halaman terbitan INFID, ini memang layak dibaca oleh masyarakat luas, terutama untuk panduan masyarakat, agar mereka berhati-hati, mensikapi globalisasi, mampu mengkritisi keberadaan globalisasi yang menyengsarakan bahwa globalisasi itu bukan sesuatu yang given, ada begitu saja. Seperti yang diramalkan oleh Karl Polanyi dalam karya terbesarnya, The Great Transformation, yang meramalkan bahwa dengan mengijinkan mekanisme pasar menjadi satu-satunya nasib umat manusia dan lingkungan alam mereka, maka akan mengakibatkan perusakan masyarakat

Buku ini ditulis oleh seorang aktivis yang kritis dan involving pada gerakan mewaspadai globalisasi. Sehingga penjiwaan kritiknya demikian kuat, termasuk keprihatinnya yang demikian mendalam, ia memperhatikan betapa perkembangan globalisasi sudah sangat menyedihkan, memprihatinkan, bahkan gejala penghancuran perdaban manusia secara sistemik kini telah ada di depan mata, oleh karena itu mari kita waspadai ancaman Globalisasi. (Red)
http://iswekon.wordpress.com/2009/01/20/mewaspadai-ancaman-globalisasi/

 

2 Responses to “Mewaspadai Ancaman Globalisasi”

  1. niam Says:

    globalisasi adalah imperialisme gaya baru…
    alat bagi paham demokrasi dan negara pengembannya untuk menjajah negeri-negeri, baik muslim ataupun bukan…
    sudah saatnya umat terbuka matanya, terketuk hatinya untuk meninggalkan demokrasi dan kapitalisme serta menundukkan globalisasi dengan tegaknya khilafah…

  2. niam Says:

    nasionalisme adalah akar keterpecahbelahan umat Islam…
    nasionalisme berdampak pada tergerusnya ukhuwah islamiyyah…
    tak peduli nasib saudara sesama muslim, hanya karena berbeda kebangsaan…
    berperang hanya demi mempertahankan batas teritori…
    hingga musuh yang nyata tak dapat dikenali lagi (amerika dan ideologi demorasi kapitalisnya)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s