KMM STKS BANDUNG

Syiar dan Media Dakwah Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung

“Kota Tanpa Perasaan” August 26, 2010

Drs. Dyayadi, MT dalam bukunya “Tata kota Menurut Islam” beliau memaparkan bahwa perkembangan kota jakarta sudah sangat luar biasa. Dengan hanya luas wilayah 650 kilometer persegi, jakarta harus menampung jumlah manusia sebanyak 10 juta jiwa. Ini semua akbat dari arus perpindahan orang dari desa ke kota semakin meningkat. Banyak dari mereka yang menganggap akan hidup lebih baik jika tinggal di kota, tapi nyatanya juga tidak bahkan mereka seakan menjadi penyesak dada ibu kota ini hingga kota ini susah bernafas.

Untuk semua permasalahan kota hampir bisa semua kita temukan di kota metropolitan ini mulai dari banjir setiap tahunnya pasti ada, kemacetan yang tidak pernah absen hingga tindakan kriminal yang selalu membuat sempurnanya kerusakan sebuah kota. Sungguh, semua di luar kontrol pemerintah sendiri. Apalagi jakarta kini menjadi kota dengan lautan beton yang kokoh, seakan-akan beton-beton itu enggan untuk beranjak dari tempatnya.

Menurut penelitian United Nation for Environment Programme (UNEP), tingkat pencemaran udara di Jakarta termasuk terparah setelah Meksiko dan Bangkok. Menurut Bapedal, penyebab utama polusi udara di Jakarta adalah asap kendaraan bermotor, yang sampai 70 persen. Dari itu semualah jakarta menjadi mengambil peran sangat bertanggungjawab atas besarnya lobang ozon.

Kini sangat sulit untuk menikmati udara yang bersih, semua sudah tercemari dengan asap kendaraan. Jangankan jakarta menurut penelitian, di kota Bandung saja, dalam setiap tahunnya warga bandung hanya bisa menikmati udara yang bersih hanya sekitar 75 jam pertahunnya. Itu artinya jika hidup di Bandung kita hanya menikmati udara bersih selama 3 hari dalam jangka waktu selama setahun. Ketua Komisi Organisasi Dewan Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Ririn Sefsani, memperkirakan, pada 2011 kota Jakarta akan macet total. Menurut saya pribadi, ini hal yang wajar karena populasi kendaraan di jakarta terus meningkat dan tidak bisa di kontrol oleh pemerintah maka sangat relevan dengan kemacetan.

Dari fakat ini semua, maka sangat wajar jakarta jika di juluki “kota tanpa perasaan”, dan sangat wajar pula jika kini muncul isu untuk memindahkan ibu kota negara ini ke kalimantan. Bukan jakarta yang salah tetapi manusia yang menjadi penghuni di kota ini, Khususnya pemerintah yang seharusnya menjadi penjaga dan pengatur kehidupan masyarakat. Apa yang pemerintah sudah lakukan untuk menyelesaikan permasalahan ini? Atau mereka sudah kehabisan akal untuk mengalahkan kota ini?

Setiap masalah bukan tidak ada solusinya, tetapi apakah kita akan mengambil solusi yang benar atau tidak? Dan tentu jakarta sebagai kota yang di huni oleh sebagian besar oleh muslim, maka sudah seharusnya penguasa (pemerintah) mengambil solusi islam untuk setiap permasalahannya. Karena dalam agama Islamlah Allah meletakkan kebenaran dan solusi setiap pemasalahan manusia termasuk permasalahan kota yang melanda kota ini. Jika tidak, maka tunggulah kehancuran kota dan negara ini… Wallahu a’lam

Imaduddin Al Faruq

Amirul Jihad

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s