KMM STKS BANDUNG

Syiar dan Media Dakwah Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung

Konferensi Rajab 1431 H : Umat Kian Rindu Khilafah August 6, 2010

Penerapan sistem Islam secara kaffah dalam naungan khilafah adalah sebuah kewajiban dari Allah SWT.

Takbir demi takbir berkumandang menyambut orasi para narasumber di acara yang diadakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Jakarta, Ahad (25/7) lalu. Konferensi yang dihadiri lebih dari 1500 peserta ini merupakan rangkaian agenda Hizbut Tahrir di seluruh dunia untuk mengingatkan kaum Muslim tentang kewajiban menerapkan syariah dalam naungan Khilafah. Melalui konferensi ini, HTI menyodorkan solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan umat manusia yang melanda dunia dewasa ini, khususnya di Indonesia.

Dalam konferensi yang bertema: Hizbut Tahrir Menjawab (Solusi Islam untuk Krisis Indonesia dan Internasional), enam pembicara tampil menyampaikan makalahnya. Pengamat ekonomi Iman Sugema mengangkat fakta krisis ekonomi di Indonesia dan dunia. Sementara Jubir HTI M Ismail Yusanto membongkar faktar krisis politik saat ini. Pembicara lainnya, Riza Rosadi dan Tun Kelana Jaya menyodorkan solusi Islam untuk mengatasi krisis ekonomi Indonesia dan dunia. Pada sesi terakhir, MR Kurnia dan Farid Wadjdi menawarkan solusi Islam untuk menyelesaikan problematika politik Indonesia dan global.

Secara ekonomi, menurut Iman, sistem ekonomi yang berlaku secara global sekarang akan senantiasa melahirkan ketidakadilan. Sistem tersebut bertumpu pada sektor non riil dan ribawi. Pasar uang dan bursa berjangka menjadi penyangga utama. Padahal itu adalah perjudian.

Jubir Ismail Yusanto membeberkan, krisis politik di Indonesia berawal dari penerapan demokrasi. Secara fakta, demokrasi tak pernah bisa diterapkan. Kedaulatan di tangan rakyat tak pernah ada. Kedaulatan diambil alih oleh penguasa dan pengusaha. Tak heran bila demokrasi menjadi alat atau pintu untuk berlangsungnya neo-imperialisme.

Demokrasi yang dekat dengan semboyan “kebebasan, persamaan dan persaudaraan” seperti semboyan “Liberte, Egalite, Franite” dalam prakteknya memunculkan banyak ironi. Buat kaum minoritas Muslim, kebebasan dan persamaan itu tidaklah berlaku.

Di negeri-negeri Muslim khususnya, lanjutnya, demokrasi melahirkan keterpurukan di berbagai bidang: ekonomi, pendidikan, sosial, hukum/peradilan dan lainnya. Terhadap Dunia Islam, AS dan Eropa bahkan melakukan tindakan biadab: membantai ratusan ribu kaum Muslim di Irak dan Afghanistan atas nama demokratisasi!

Ismail kemudian mengutip pendapat Winston Churchil, yang mengatakan, “Democracy is worst possible form of government (Demokrasi adalah kemungkinan terburuk dari sebuah bentuk pemerintahan).” Benjamin Constan juga berkata, “Demokrasi membawa kita menuju jalan yang menakutkan, yaitu kediktatoran parlemen.” Jauh sebelum itu, di Yunani (Yunani kuno), tempat demokrasi itu berasal, tokoh pemikir dan filosof seperti Plato dan Aristoteles berpandangan bahwa demokrasi merupakan sistem yang berbahaya dan tidak praktis. Aristoteles bahkan menambahkan, “Pemerintahan yang didasarkan pada pilihan orang banyak dapat mudah dipengaruhi oleh para demagog dan akhirnya akan merosot menjadi kediktatoran.”

Karena itu, sistem ekonomi dan politik yang rusak itu tidak bisa dipertahankan. Sebagai solusinya, Islam punya jawaban. HT telah memiliki rincian konsep bagaimana mengatasi krisis tersebut.

Riza Rosadi, Ketua Lajnah Maslahiyah DPP HTI mengungkapkan, prinsip-prinsip sistem ekonomi Islam. Di antaranya, pengaturan terhadap kepemilikan sumber kekayaan, dan penerapan sistem keuangan dan moneter Islam.

“Diterapkannya sistem ekonomi Islam dalam pengelolaan kepemilikan umum dan pengelolaan keuangan dan moneter, maka beberapa persoalan besar yang dihadapi Indonesia insya Allah akan dapat diselesaikan,” tandasnya. Menurutnya, dengan dikuasai dan dikelolanya sumber daya alam dan energi oleh negara maka akan diperoleh pemasukan yang sangat besar oleh negara.

Tun Kelana Jaya pun menambahkan, sistem Islam akan mengubah sistem mata uang kertas saat ini menjadi mata uang berbasis emas dan perak. Tak hanya itu, sistem Islam akan menghapuskan sistem riba dan pasar bebas. Lebih dari itu, sistem ekonomi Islam adalah merupakan pelaksanaan perintah Allah serta wujud ketaatan kepada-Nya.

Sebaliknya ,menurut Tun, sistem ekonomi kapitalis terbukti cacat. Banyak pakar ekonomi yang menyimpulkan bahwa sistem ekonomi kapitalisme telah gagal membangun kesejahteran umat manusia di muka bumi, serta menyatakan bahwa ilmu ekonomi telah mati.

Sementara itu, Ketua DPP HTI M Rahmat Kurnia menyampaikan, sistem politik Indonesia harus diubah jika negeri ini ingin lebih baik. Sistem seperti apa? Menurutnya, sistem politik harus memiliki empat karakter yakni pertama, kedaulatan ada di tangan hukum syara (as-siyadatu li asy-syar’iy). Artinya, penentu halal-haram, baik-buruk, terpuji tercela adalah syariat Islam, bukan pikiran rakyat atau wakilnya. Kedua, kekuasaan berada di tangan umat (as-sulthanu li al-ummah). Umatlah yang memilih kepala negara dan wakil rakyat. Ketiga, kepala negara yang berhak menetapkan adopsi hukum dengan berijtihad atau memilih di antara hasil ijtihad yang ada. Keempat, umat Islam bersatu menjadi satu tubuh.

Ketua DPP HTI Farid Wadjdi, yang menyodorkan solusi Islam untuk perpolitikan global, mengatakan hanya khilafahlah yang menjadi solusi bagi umat Islam yang terpecah belah seperti sekarang. Tanpa khilafah, umat Islam akan terus menderita dan dalam cengkeraman penjajah.

Khilafah, lanjutnya, akan meletakkan hubungan antar negara berdasarkan syariah Islam dan menyatukan kembali dunia Islam yang terpecah dan terpisah. Khilafah juga akan membatalkan hubungan dan perjanjian militer dengan negara kafir penjajah. Khilafah tidak bergabung dan terikat dengan organisasi internasional yang menjadi alat penjajahan. Lebih dari itu, khilafah akan melepaskan diri dari sistem ekonomi kapitalis.

Pengungkapan fakta dan solusi secara komprehensif ini memberikan wawasan baru kepada para hadirin konferensi. Beberapa kali penanya mempertanyakan kapan khilafah tegak. Mereka sangat rindu khilafah. Mereka tak percaya lagi dengan sistem yang berlaku sekarang.

Ketua DPP HTI Rochmat S Labib, mengajak seluruh peserta konferensi berjuang bersama-sama HTI dalam rangka menerapkan syariah dalam naungan khilafah. Menurutnya, hanya ini satu-satunya solusi permasalahan umat manusia. Semakin banyak umat yang berjuang ke arah sana, khilafah akan segera tegak di muka bumi. (mujiyanto/ mediaumat.com)(HTI)

 

One Response to “Konferensi Rajab 1431 H : Umat Kian Rindu Khilafah”

  1. […] Konferensi Rajab 1431 H : Umat Kian Rindu Khilafah (via KMM STKS BANDUNG) Posted on 16 Oktober 2010 by binatama11 Penerapan sistem Islam secara kaffah dalam naungan khilafah adalah sebuah kewajiban dari Allah SWT. Takbir demi takbir berkumandang menyambut orasi para narasumber di acara yang diadakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Jakarta, Ahad (25/7) lalu. Konferensi yang dihadiri lebih dari 1500 peserta ini merupakan rangkaian agenda Hizbut Tahrir di seluruh dunia untuk mengingatkan kaum Muslim tentang kewajiban menerapkan syariah dalam naungan Khilafah. … Read More […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s